Tampilkan postingan dengan label novi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Antara Mencicil HP dan Kambing Kurban


Noviyanti Utaminingsih


Arin tertegun merenungi, ternyata tahun 2011 akan segera berakhir. Masih terngiang di ingatan Arin ketika dirinya berniat berkurban tahun ini. Cita-cita yang tak lagi kesampaian seperti halnya tahun lalu. Arin memandangi rekening tabungannya. Pemasukan dari penghasilannya lumayan sudah, tapi pengeluarannya juga tidak sedikit. Entah kenapa, semenjak pendapatannya mulai bertambah, kebutuhan hidupnya pun juga terus meningkat.

Arin ingat, dulu ketika bekerja dengan disambi kuliah, Arin masih sempat menyisihkan sebagian uangnya untuk berkurban. Padahal Arin tahu benar, hampir setiap hari Arin harus jungkir balik dari pagi hingga malam. Paginya, Arin mengerjakan pekerjaan freelance di daerah Depok. Siangnya, musti berlari ke kampus yang jaraknya lumayan jauh di Jakarta Pusat. Hampir setiap hari begitu. Jadi, tak jarang ketika uangnya habis untuk ongkos-ongkos, Arin meminjam uang dari ibunya yang hanya mengandalkan gaji pensiunan janda.

Aneh, pikir Arin saat ini. Dulu, ketika kuliah dan kerja, Arin sanggup menyisihkan uang untuk kurban. Menabung tiap bulan dari 50.000 sampai 100.000 hingga pada bulan Dzulhijah, Arin bisa membeli kambing, walau hanya mampu kelas B. Sekarang, begitu Arin tidak lagi berkuliah dan hanya bekerja. Jangankan untuk berkurban, Arin bingung dengan begitu banyaknya kebutuhan yang tiba-tiba.

Banyak sekali keinginan dan kebutuhan Arin  yang tak terbendung. Sebagian sudah terlaksana, sebagian lain belum. Kalau dipikir memang ada beberapa kebutuhan yang benar-benar penting. Tapi, tak jarang juga, itu hanya sekadar keinginan semata.

Hidup prihatin yang Arin jalani saat itu mengajarkan Arin untuk mengatur uang sedemikian rupa dan menabung untuk bisa berkurban. Hidup berlebih di kemudian hari, sepertinya menenggelamkan Arin pada keinginan-keinginan yang belum tercapai sebelumnya.

Beberapa waktu lalu, Arin memiliki Hp dengan nilai jutaan rupiah, mencicil dari sebuah pusat penjualan elektronik. Hp sebelumnya telah rusak dan menurut Arin, itu adalah salah satu benda primer. Rencananya, setelah selesai mencicil Hp, Arin akan mencicil motor. Menurut Arin ini juga kebutuhan primer. Motor tersebut akan dipakai Arin untuk transportasi ke kantornya.

Tapi, kemudian Arin bingung. Hp-nya kini telah di tangan. Iklan motor bebek ada di meja belajarnya. Harga kambing yang ditawarkan kemarin tidak mencapai 800.000. tidak lebih dari harga Hp Arin. Tapi, ketika melihat tabungan, Arin tak lagi mendapatkan angka yang dia inginkan.

Arin jadi ingat, dia sempat mendapat nasihat dari pengajarnya dulu di kampus. Dosen Arin itu membenarkan kalau berkurban tampak berat begitu langsung mengeluarkannya dan memberi solusi dengan menabung terlebih dahulu. Seperti halnya Hp yang Arin cicil. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa mencicil Hp saja bisa, sedangkan berkurban seekor kambing yang nilainya pahala, justru tidak bisa.

=========================

Mungkin banyak orang yang mengalami apa yang dialami Arin. Begitu banyak keinginan dan kebutuhan di kala penghasilan sudah mulai meningkat. Aturan matematika, ketika kebutuhan cukup menjadi tidak berlaku. Entah karena pola konsumerisme yang mulai menggerogoti atau itulah pola ekonomi secara umum. Padahal, kalau dihitung matematika, dengan penghasilan Arin yang sekarang, dia bisa berkurban dengan mudahnya. Tapi, yang terjadi malah tidak bisa sama sekali. Arin berkutat pada kebutuhan pribadi. Seolah tak akan pernah usai dan tak ada habisnya

Pernahkah kita berpikir bersama. Seringnya, nilai uang menjadi cukup besar ketika kita ingin menyalurkan ke baitul Maal, tapi lain halnya ketika dibawa ke Mall. Nilai Rp20.000 menjadi besar ketika kita ingin memasukkan ke tabung di mesjid pada waktu sholat jumat. Tapi begitu kecil ketika kita bawa ke mall. Tidak cukup untuk beli sepatu, kalau makan pun hanya bisa beli paket murah meriah.

Banyak dari kita silau dengan kehidupan duniawi. Seolah-olah segalanya yang terpajang di etalase adalah kebutuhan kita. Padahal, sering itu hanya tipuan sesaat. Yah, pikiran saat itu, benda ini ”perlu”, tapi sebenarnya hanya ”ingin”.

Seyogyanya, ketika sanggup untuk mencicil kebutuhan duniawi, kenapa malah justru sulit mencicil tabungan akhirat. Kalau segalanya dimulai dengan menabung terlebih dahulu. kita bisa mendisiplinkan diri untuk memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan.

Bahkan kita bisa saja memulai tabungan haji dari hari ini, bahkan bisa dimulai dengan nilai 5.000 perak. Saya teringat dengan tetangga saya yang mengais rezekinya dari berdagang di warung. Keinginannya begitu besar untuk pergi haji. Kemudian, ibu warung, biasa dia dipanggil, mulai bertanya pada tetangganya yang telah pergi haji. ”Nabung, Bu” Ibu warung pun mulai menabung dan siapa yang menduga. Akhirnya, biaya naik haji tersebut tertutup dengan rezeki yang tak diduga sebelumnya. Subhanallah, beliau sudah haji setelah beberapa tahun kemudian, beliau dipanggil oleh Allah Swt.

Subhanallah, kalau memang sudah niat untuk beribadah di jalan Allah, pasti ada jalan ke luar yang diberikan Allah. Seperti yang dialami bu warung dan Arin di masa prihatinnya. Sekarang, tinggal bagaimana kita mau memprioritaskan ke mana rezeki yang telah kita dapatkan dari Allah Swt.

Jumat, 27 Januari 2012

Kita Benar-Benar Sudah Lupa

Noviyanti Utaminingsih

Hari sudah menjelang siang ketika kaki ini mulai melangkah. Seorang teman dari luar kota datang ke Jakarta untuk tes masuk kerja. Aku diminta menemaninya. Aku lalui jalanan dengan perasaan gundah. Entah datang dari mana, rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri ini. Sebuah semangat, semangat seorang manusia dalam mengais rezeki. Optimisme yang luntur karena beberapa persoalan yang tengah kuhadapi.
Penumpang dalam angkot hanya sedikit. Si sopir tetap melakukan usaha mencari penumpang dengan berhenti beberapa kali di pinggir jalan menunggu penumpang lainnya. Sering kuperhatikan, para sopir sambil menyetir mobilnya menghitung perolehan rezekinya. Tak lama, uang tersebut harus berpindah tangan ke pegawai SPBU karena harus mengisi bensin.
Ketika menaiki mikrolet menuju rumah, saya pernah mendengar seorang sopir yang mengobrol dengan teman sesama sopir di jalan raya yang padat, kalau dirinya akan berhenti menjadi sopir dan pulang kampung. Entah karena hidup sebagai supir tak mencukupi kebutuhan di Jakarta yang serba mahal, entah karena kemaceten di Jakarta yang kian memusingkan kepala. Apa lagi, rute mikrolet itu di daerah Kalimalang yang akan melewati banyak titik kemacetan.
Tidak hanya angkutan umum seperti mikrolet, bus, metromini yang setiap pagi dan sorenya dijejali penumpang, KRL ekonomi Jakarta Bogor pun sama, selalu dipadati hingga tak jarang para penumpangnya jadi target pencopetan. Seorang teman pernah mengeluhkan kondisi padatnya kereta api hingga dia mulai tak tahan lagi setiap hari ketika berangkat dan pulang kerja. Tapi, mau bagaimana lagi, kebutuhan harus dipenuhi dan dia adalah tulang punggung keluarga yang harus membiayai beberapa kebutuhan di rumahnya.
Setiap hari, pagi dan sore, orang-orang berjejalan di bus menuju tempat mengais rezeki. Ada juga yang sedang mencari pekerjaan. Para pegawai tahu akan digaji berapa tiap bulannya, tapi sering merasa kurang dengan penghasilan yang didapatnya. Di sekeliling mereka ada supir mikrolet, angkot metro mini. Di sana juga ada pedagang asongan, ojek, dan banyak lagi.. Bagaimana dengan para pedagang, supir dan lainnya. Apa mereka tahu akan dapat berapa.
Selama perjalanan aku disuguhkan banyak hal. Mengajakku untuk berpikir dan mengoreksi diri. Bagaimana rezeki itu datang dari Allah. Bagaimana, kita sebagai manusia harus selalu berusaha.
Saya tertegun menatap seorang pedagang asongan. Berapa ya uang yang akan dibawanya pulang. Apa cukup untuk makan hari itu? Atau berapa uang yang akan diserahkan sang supir untuk keluarganya nanti? Apa cukup untuk biaya sekolah anaknya? Hmmm, seperti halnya juga saya. Saya bukan orang gajian. Tiap bulan saya tak pernah tahu akan dapat berapa dari hasil kerja saya. Kadang hal itu membuat saya pesimis dan bingung, kadang membuat saya merasa bersemangat untuk berusaha terus.
”Rezeki itu di tangan Allah”. Kata-kata itu memang benar adanya, tapi klise terdengar bagi orang yang hidupnya kelelahan mengais rezeki setiap hari.
Setiap hari disibukkan dengan berbagai persoalan yang kian bertambah. BBM naik, sembako naik, anak mesti bayar SPP, biaya listrik naik sementara penghasilan tak juga bertambah dan korupsi tetap merajalela.
Kata-kata ”rezeki di tangan Allah” tak lagi menjadi penghibur di kala susah. Padahal, kalau kita meyakini, kita tak akan pernah takut melewati hari-hari kita. Baik sebagai karyawan, pedagang ataupun freelancer. Rezeki tak akan pernah tertukar, tinggal bagaimana kita menjemputnya. Rasanya sebagai manusia, kita tak akan pernah puas kalau tak bisa mensyukuri nikmat yang Dia beri.
Aku jadi ingat perbincanganku dengan seorang sahabat. Dia mengutip ucapan seorang motivator. Bahwasanya, yang sering mematahkan semangat kita terhadap rezeki atau penghasilan adalah besarnya ketergantungan kita terhadap kantor, orang lain, klien yang seolah-olah merekalah pemberi rezeki kita.
Astaghfirullah, kita benar-benar sudah lupa dengan kuasa-Nya.
Untuk seorang sahabat, Thanks for sharing.

Ketika Harus Menganggur

Noviyanti Utaminingsih 


Malam ini seorang adik kelas menelepon saya. Menanyakan beberapa hal tentang pekerjaan karena dia akan ditest besok di sebuah perusahaan penerbitan. Ada kekhawatiran dalam dirinya seandainya dia tak mampu mengerjakan tes yang diberikan. Bertanya banyak hal yang tak bisa saya jawab semua. Yah, lagi-lagi saya katakan bahwa tipikal setiap perusahaan itu bebrbeda. Saya hanya bisa memberikan gambaran hal-hal yang pernah saya alami.

Pembicaraan kami mengalir hingga pada ketidakpuasan kepada dirinya sendiri. Awalnya, dia bercerita mengenai temannya yang mulai stress karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Kemudian, dia mulai mengakui kalau dirinya pun tak jauh berbeda. Akhirnya, adik kelas saya itu mengungkapkan kekecewaan karena berkali-kali test di perusahaan, tapi berkali-kali pula dia gagal.

Rasa optimisme dan kepercayaan dirinya mulai luntur seiring dengan berbagai hal yang harus dihadapi. Iri melihat teman-temannya sudah bekerja. Stress karena masih terus menganggur. Bingung karena kebutuhan terus menuntut. Saat itu saya jadi ingat dengan pengalaman saya sendiri.

Saya pernah dalam posisi dia. Begitu lulus, harus menganggur dulu. Sekitar 6 bulan saya harus menunggu pekerjaan yang baru setelah saya melepas pekerjaan pertama saya. Bukannya tidak ada panggilan. Ada beberapa panggilan, tapi tidak cocok dan saya tidak masuk kriteria.

Saat-saat menganggur saat itu adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Menjadi pesimis, rendah diri dan bodoh. Masa mengganggur pun mengganggu stabilitas emosi saya. Menjadi tidak produktif dan kurang bersemangat.  Hingga akhirnya saya pun dipaggil untuk tes dan interview di sebuah penerbitan. Saya harus bersaing dengan 5 orang lainnya saat itu. Saya hanya minta yang terbaik kalau memang itu pekerjaan yang tepat buat saya. Alhamdulillah, saya pun diterima di tempat tersebut. Saya musti belajar banyak hal untuk bisa bekerja di tempat tersebut.

Saat menganggur saya tak mengetahui kalau tersimpan misteri yang menjadi jalan hidup saya. Saya harus berlama-lama menanti untuk mendapat panggilan kerja, tapi justru di tempat tersebut saya banyak mendapat pengalaman dan pelajaran. Hingga tiga tahun kemudian saya berusaha merintis karir mandiri setelah mendapatkan ilmu dari tempat saya bekerja yang bisa dibilang batu lompatan bagi saya.

Ketika usaha sudah mulai berkembang pun, saya pernah dihadapkan pada situasi menganggur. Order sepi, pemasukan berkurang, padahal biaya operasional terus berjalan. Saya sibuk dengan diri saya sendiri yang menyalahkan keadaan kosong. Hingga kemudian, lagi-lagi saya mendapat pelajaran dan hikmah atas ”kekosongan” sesaat yang memang harus dilalui.

Kita sering merasa tertipu dengan ketidakberhasilan dalam suatu masa. Menyalahkan diri yang tak sanggup menjalani berbagai hal di depan mata. Tak sanggup mendapat pekerjaan dalam waktu yang cepat. Merasa tertinggal dari siapapun.

Kekosongan saat menganggur menjadi waktu yang tersia-sia. Seolah-olah waktu berhenti sesaat untuk mendengarkan keluh kesah kita, dan perasaan stress yang terus menganggu. Hingga kemudian kita baru sadari, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, kalau kita terus berusaha, mencoba dan berdoa. Meyakini kalau di setiap pribadi ada potensi yang harus terus digali. Kreativitas dalam diri yang bisa terus diasah hingga tak ada kata ”menganggur” lagi dalam kamus kita.

Buat adikku di Bekasi...
SEMANGAT ;)

Rabu, 25 Januari 2012

TEROBOSAN BARU MOBIL ASEMKA

OLEH: NOVIYANTI UTAMININGSIH

    Jokowi, wali kota Solo mengapresiasi siswa-siswa SMK di kotanya dengan mengendarai mobil buatan mereka. Mobil seharga kurang dari 100 juta ini memiliki kemampuan dan kualitas yang tak kalah dibanding mobil buatan luar negeri. Saat ini, mobil tersebut masih dalam proses uji kelayakan.
    Berbeda dengan Jokowi, Bibit Waluyo Gubernur Jawa Barat, masih belum yakin dengan mobil esemka. Beliau menyatakan kalau masih banyak yang harus dibenahi pada mobil yang kini menarik perhatian beberapa tokoh masyarakat di Indonesia.
    Mobil esemka adalah terobosan baru bagi perkembangan otomotif di Indonesia. Diharapkan mobil esemka menjadi pionir karya anak bangsa sehingga kemudian menyusul karya-karya generasi penerus. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari pemimpin bangsa, tokoh-tokoh masyarakat seperti Jokowi dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Rabu, 04 Januari 2012

Masihkah Kita Perlu Bertanya?

Noviyanti Utaminingsih

“Kenapa harus Palestina?” “Kenapa menolong yang jauh, padahal yang dekat banyak juga yang harus ditolong?”

Pertanyaan ini mungkin ada di benak kita. Pertanyaan ini mungkin terlintas dalam pikiran kita ketika melihat acara-acara penggalangan dana untuk Palestina ataupun solidaritas Palestina yang dihadiri dan didukung banyak orang dan lembaga.

Sebuah pertanyaan yang mudah, namun tak semudah itu bisa dijawab. Mengingatkan saya kembali pada beberapa kesempatan ketika saya bersemangat mem-posting tentang penggalangan dana untuk Palestina. Ada beberapa orang yang dengan pemikirannya masing-masing menanyakan hal itu.

Ada banyak orang yang menerima pendapat kalau Palestina harus dibantu tanpa bertanya. Banyak dari mereka cukup mendengar dan taat tanpa perlu bertanya banyak. Akan tetapi, banyak yang harus bertanya dulu?
Saya tak pernah menyalahkan itu, walau terkadang pertanyaan itu bernada sinis dengan dibumbui kata-kata yang tidak enak didengar. “Ngapain ngurusin negara lain, negara sendiri juga belum bener.” Atau “Emang, sih ga sekeren Palestina, ketika mengurus urusan negeri sendiri.” Dan banyak lagi.

Banyak alasan kita mendukung Palestina.
Dilihat secara universal, sudah dengan jelas, Israel menjajah Palestina, mengambil bagian demi bagian, menyiksa, menyandera, membunuh tanpa kenal usia atau jenis kelamin. Siapa pun mampu melihat apa yang terjadi sejak berpuluh tahun lalu, kejahatan-kejahatan Israel yang terus-menerus. Siapa pun akan tersentuh kemanusiaannya ketika nilai-nilai kehidupan dianiyaya. Agama apa pun bisa melihat kebiadaban Zionis Israel di Palestina.

Sementara dilihat dari sisi agama Islam, begitu banyak keutamaan-keutamaan yang harus kita perjuangkan di negeri yang diwakafkan untuk umat Islam ini. Ada Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam, salah satu masjid yang diberkahi setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan tempat Rasulullah ‘transit’ dalam perjalanan Isra’ Mi’raj-nya, dan masih banyak lagi.

Masihkah kemudian kita bertanya? Karena dengan segala perasaan lemah kita sebagai bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan bencana, carut marut masalah korupsi yang tak jelas ujung pangkalnya, berkurangnya satu demi satu pulau, kemiskinan yang menjadi pemandangan sehari-hari dan banyak lagi. Tapi, sadarkah kita, keadaan kita masih lebih baik dengan mereka di sana.

Kemudian, akan menjadi absurd ketika kita mengetahui beberapa fakta tentang sikap bangsa Palestina kepada bangsa Indonesia. Ada beberapa contoh yang akan membuat kita tertegun. Ketika Padang mengalami gempa,  Palestina mengirimkan bantuan dan juga dokter-dokter. Saat terjadi gempa di Jawa Tengah dan sekitarnya, rakyat Gaza memberikan sumbangan. Saat letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya serta Tsunami di Mentawai, rakyat Palestina menyumbang masing-masing dua ribu dollar ke dua tempat tersebut.

Negara Palestina yang sedemikian kesusahannya di bawah penjajahan Zions Israel, tetapi masih peduli untuk membantu kita. Lalu, kenapa kita yang tidak di bawah jajahan siapa pun saat ini, membantu mereka. Kita yang berjalan dengan aman dan nyaman mendukung mereka yang saat ini hidupnya di bawah desingan peluru dan bom. Bukankah kita semua bersaudara? Bukankah kita menentang segala bentuk penjajahan?

Cobalah membuka sedikit mata ini untuk melihat apa yang terjadi. Sambil mengingat 67 tahun lalu kemerdekaan Indonesia, Palestina adalah salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Mufti Agung Palestina, Syaikh Amin Al-Husaini menyerukan kepada seluruh pemimpin Arab untuk memberikan pengakuan dan mengulurkan bantuan untuk Republik Indonesia yang baru berdiri. Syaikh tersebut juga memimpin Lajnah Difa’i An Indonesy (Dewan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) yang didirikan pada 16 Oktober 1945.

Masihkah kita perlu bertanya, “Kenapa harus membantu Palestina?”

Selasa, 27 Desember 2011

SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA


Oleh: Noviyanti Utaminingsih


Pada 4 Desember 2011 lalu, organisasi-organisasi yang tergabung dalam ASPAC for Palestine menyelenggarakan rangkaian acara yang bertujuan menunjukan kepedulian pada perjuangan rakyat Palestina.
Di mulai sejak pukul 7 pagi, sekitar ribuan pendukung Palestina melakukan jalan sehat dan bersepeda dari Taman Menteng-Bundaran HI-taman Menteng. Para pendukung itu berasal dari beberapa organisasi dan komunitas diantaranya KNRP, Spirit of Al Asa, Mathlaul Anwar, MP4 Palestine, Riska dan lain-lain.
Mereka melakukan long march, orasi dan menyebarkan brosur-brosur tentang kondisi Palestina sambil mengusung spanduk-spanduk organisasi hingga ke pusat acara selanjutnya di Taman Menteng.
Di Taman Menteng di selenggarakan berbagai rangkaian acara diantaranya perlombaan anak, seperti lomba menulis surat untuk anak Palestina dan menggambar bertema Palestina. Selain itu diadakan lomba fotoghrafi, hiburan berupa nasyid dan band-band anak bangsa. Yang tak kalah penting adalah orasi dari tiap organisasi yang tergabung dalam ASPAC for Palestina. Ada seorang warga Palestina yang belum lama di bebaskan dari penjara Israel setelah 20 tahun. Beliau memilih Indonesia menjadi negara pertama yang dikunjungi.
Acara tersebut di akhiri dengan pembacaan resolusi dari tiap organisasi yang tergabung dalam ASPAC atas dukungannya kepada Palestina.