Tampilkan postingan dengan label mariaulfah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mariaulfah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Mengenal Tayangan Infotainment


(Maria Ulfah, 01 08 034)

Umumnya, masyarakat menganggap tayangan infotainment sebagai tayangan yang menyajikan berita tentang gosip, artis, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia selebritis. Ade Armando dalam rubrik Resonansi  memaparkan bahwa istilah infotainment sebenarnya merujuk pada gaya menampilkan informasi sebagai hiburan. Lebih lanjut Ade menjelaskan bahwa tayangan infotainment lahir karena televisi sebagai perpanjangan industri media berupaya menyajikan hal-hal yang mampu menarik perhatian masyarakat sebesar-besarnya walaupun hal yang disajikan tersebut belum tentu hal-hal substantif yang terkait dengan kepentingan masyarakat luas. Yang menjadi pokok tekanan dalam tayangan infotainment adalah penampilan beritanya yang disesuaikan dengan aturan main program yang menghibur. 
Dari sudut pandang terminologi, kata infotainment merupakan gabungan dari dua buah kata yaitu information dan entertainment. Dengan batasan terminologi tersebut maka infotainment memang sepatutnya diartikan sebagai penyampaian informasi dengan cara yang menghibur. Dalam batasan lain, infotainment pun dapat diartikan sebagai tayangan yang mengkombinasikan unsur berita dan informasi dengan unsur hiburan.  Informasi tentang dunia hewan dapat dimasukkan dalam kategori ini.
Pendapat lain tentang batasan infotainment dikemukakan pula oleh Matt Nisbet. Dalam sebuah tulisannya, Nisbet memaparkan bahwa infotainment merupakan suatu bentuk soft journalism.  Dengan terminologi ini, Nisbet berupaya menjelaskan bahwa infotainment merupakan suatu bentuk tayangan yang memiliki ruang lingkup sangat luas. Berbagai jenis tayangan televisi dapat dikategorikan sebagai infotainment. Nisbet menyatakan tayangan tentang dunia hiburan, kriminalitas, metafisik, dan berbagai macam tayangan yang menyajikan hal-hal sensasional dapat dimasukkan dalam kelompok tayangan infotainment.
Berdasarkan definisi yang ada, maka tayangan infotainment dapat diartikan baik secara sempit maupun secara luas. Pendefinisian infotainment secara sempit merujuk pada pandangan masyarakat luas bahwa tayangan infotainment merupakan tayangan seputar dunia selebritis. Sementara itu, pendefinisian infotainment secara luas merujuk pada berbagai jenis tayangan yang menginformasikan sesuatu hal dengan cara menghibur.

Mengenal Konsep Media Literacy

(Maria Ulfah, 01 08 034)

Dalam media televisi, konstruksi atas realitas sosial menempatkan individu sebagai subyek sekaligus obyek dalam konstruksi sosial, yang senantiasa melakukan konstruksi sekaligus mendekonstruksi realitas di media. Media menciptakan kesadaran palsu (kesadaran yang diciptakan media televisi) melalui hegemoni ideologinya. Kesadaran itu akan diolah atau direproduksi individu dan pada pokoknya dimungkinkan untuk mengekpresikannya kembali dengan bebas. Seberapa besar kesadaran individu akan adanya konstruksi atas realitas sosial di media televisi ditentukan oleh kemampuan atau daya kritis individu itu sendiri. Tanggapan atau respon sendiri didefinisikan sebagai serangkaian reaksi dari penerima pesan setelah melihat dan mendengar pesan-pesan berikut kemasannya yang dikirimkan oleh pihak pengirim pesan. Tanggapan ini secara tidak langsung akan mencerminkan tingkat melek media (media literacy) karena melek media merupakan sebuah kondisi di mana seseorang memiliki kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan. Pengertian ini merupakan rujukan dari pakar komunikasi dalam National Leadership Conference on Media Litreracy yang diselenggarakan di Amerika Serikat tahun 1992.  Media literacy dapat pula didefinisikan sebagai kemampuan mempelajari bentuk normal dari suatu media, secara kritis merespons isi media dan membandingkan isi tersebut dengan kenyataan yang ada di luar. 
Pada dasarnya, kedua definisi di atas menunjukkan bahwa media literacy ditentukan oleh pengetahuan, kewaspadaan, dan rasionalitas dari suatu proses pengolahan informasi secara kognitif. Jadi media literacy terkait dengan cara individu menyeleksi sumber informasi, teknologi, kode yang digunakan, pesan-pesan yang diproduksi dan diseleksi, interpretasi serta pengaruh dari suatu pesan. Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan media literacy apabila ia mampu mengevaluasi dan menganalisis isi media, baik cetak maupun elektronik. Fungsi utama dari media literacy adalah membangun kekebalan atau pertahanan dari beragam pengaruh media massa. Dalam konsep ini diasumsikan bahwa bahasa konsumsi yang kritis akan menghasilkan produk yang kritis pula.  Adapun prinsip-prinsip utama dari media literacy yang perlu dipahami adalah: 
1.    Media are construction
Media menampilkan gambaran dunia kepada kita namun gambaran itu telah melalui seleksi dan kadang tidak representatif walau tampaknya seperti kenyataan yang sesungguhnya.
2.    Media representation construct reality
Prinsip ini melibatkan hubungan antara bagaimana gambaran dunia yang ditampilkan oleh media dan bagaimana khalayak masyarakat sebagai konsumen mempersepsikan hal tersebut. Di saat khalayak tidak memiliki pengalaman langsung terhadap suatu hal yang ditampilkan media, maka media cenderung mengambil alih persepsi tersebut.
3.    Audiences negotiate them own meaning
Khalayak bukanlah penerima pasif dari pesan media. Melainkan khalayak menyaring isi dan pesan melalui jaringan yang kompleks dalam dirinya, dan dalam jaringan masuk ke dalam sistem keyakinan dan kepercayaan.
4.    Media constructions have commercial purposes
Isi media tidak lepas dari industri media. Media hanya memberikan apa yang khalayak inginkan.
5.    Media contains values and ideologies
Program televisi pada dasarnya membentuk, mengandung, dan membawa suatu bentuk keyakinan dan kepercayaan. Televisi bisa menjadi sistem pengajaran tambahan yang membentuk budaya.
6.    Media messages have sosial and political consequences
Prinsip ini berbicara seputar hubungan antara citra dan pengaruh isi dan akibatnya. Media menampilkan, membentuk, merefleksikan, dan memperkuat realitas. Media memberikan gambaran, baik kulitas maupun kuantitas, dari kelompok maupun individu yang ada.
7.    Each medium has unique aesthetic form
Prinsip media literacy ini berhubungan dengan bagaimana individu mengerti karakteristik yang unik dari setiap media dan bagaimana karakteristik itu dapat mempengaruhi isi yang ditampilkan. Sebagai contoh, televisi dengan kemampuan visual dan audio dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang sebuah peristiwa dibandingkan dengan radio yang hanya mengandalkan kemampuan audio.
Dalam konsepsi ini, maka terpaan media (media exposure) dipandang sebagai faktor risiko sedangkan tanggapan yang menjadi indikasi media literacy merupakan faktor pelindungnya.

Masyarakat, Televisi, dan Tayangan Popular


(Maria Ulfah, 01 08 034)

Dalam satu dasawarsa terakhir, dunia pertelevisian Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan tersebut antara lain ditandai dengan hadirnya sejumlah stasiun televisi baru yang mengusung beragam tema. Hingga awal tahun 2006 saja, masyarakat (khususnya di sekitar Jakarta) dapat menikmati tidak kurang dari sebelas televisi berskala nasional dan tujuh televisi berskala lokal . Tentunya, perkembangan tersebut dengan sendirinya menuntut insan pertelevisian untuk bersikap lebih kreatif dalam menyajikan beragam acara kepada khalayak pemirsa. Bagi stasiun televisi yang telah eksis, kreativitas tersebut akan membantunya mempertahankan setiap pemirsanya sedangkan bagi stasiun televisi yang baru, kreativitasnya dalam menyajikan beragam acara akan membantunya untuk merebut perhatian masyarakat luas serta membentuk pemirsanya yang setia.
Kehadiran sejumlah stasiun televisi di Indonesia (terlebih di sekitar Jakarta) memperoleh apresiasi tersendiri dari masyarakat luas. Masyarakat sebagai pemirsa menyambut kehadiran mereka dengan gembira. Kegembiraan tersebut tidak terlepas dari semakin banyaknya hiburan yang dapat dipilih masyarakat dengan biaya yang relatif murah. Beragam hiburan murah ini pun dipandang mampu menjadi tempat pelarian sementara bagi masyarakat yang ingin melepaskan diri dari berbagai rutinitas hidup keseharian yang melelahkan.
Televisi memang identik dengan hiburan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena semenjak ditemukan, televisi lebih berperan sebagai alat hiburan masyarakat. Namun, televisi tidak hanya berperan sebagai alat hiburan. Selain sebagai alat hiburan, televisi pun memiliki sejumlah fungsi lainnya.
Televisi berfungsi sebagai media untuk mendapatkan informasi. Hal ini dikemukakan antara lain oleh Joseph Dominick R dan Dennis McQuail. Di Indonesia, hal ini diperkuat oleh hasil survey AC Nielsen pada tahun 2001 yang memperlihatkan bahwa dibandingkan surat kabar dan radio, ternyata 80,4% dari total penduduk dewasa (di atas 15 tahun) lebih memilih televisi sebagai media untuk mendapatkan informasi . Televisi berfungsi pula sebagai jembatan atau medium yang mengkorelasikan dirinya dengan pemirsanya. Selain itu, televisi menjadi medium untuk melanggengkan dan mewariskan nilai-nilai budaya di dalam masyarakat. Fungsi lain yang diperankan oleh televisi adalah sebagai penunjuk arah pencapaian tujuan masyarakat dalam segala bidang kehidupan. Namun dari semua fungsi yang ada, Dominick dan McQuail menegaskan bahwa menghibur tetap menjadi fungsi televisi yang paling dominan.  Karena fungsi menghibur ini pulalah, televisi mampu menghipnotis pemirsanya untuk bertahan di depan televisi dan membuat masyarakat tidak bisa hidup tanpa televisi. Dengan demikian, peran televisi menjadi semakin dominan dalam kehidupan masyarakat.
Berpijak pada fungsi memberikan hiburan dan informasi, sejumlah stasiun televisi mengembangkan berbagai program acara baru untuk ditawarkan kepada khalayak pemirsa. Sebenarnya, program-program tersebut tidak sepenuhnya baru melainkan dibuat berdasarkan hasil duplikasi atau adaptasi dari tayangan stasiun televisi lainnya, baik dari stasiun televisi luar negeri maupun stasiun televisi dalam negeri yang telah mendulang sukses . Dalam perkembangannya, program-program tersebut dikategorikan sebagai program popular. 
Suatu program acara televisi disebut popular bila khalayak berminat dan minat ini akan menumbuhkan minat pengiklan. Suksesnya sebuah program akan menelurkan jenis atau model program acara yang hampir sama di berbagai stasiun televisi. Hal ini mencerminkan bekerjanya prinsip-prinsip ekonomi yakni hukum pasar (demand-supply). Program yang popular diasumsikan melejit karena adanya permintaan dari khalayak/masyarakat sendiri atas program-program tersebut. Artinya, pihak televisi mengaku hanya mencoba membaca selera masyarakat dan kemudian memproduksi serta mereproduksinya. Keluhan atau tanggapan negatif terhadap suatu tayangan yang ada, cenderung dianggap minor. Bagi pengelola media, tingginya rating acara-acara tersebut menjadi indikator utama tingginya permintaan pasar, khalayak pemirsa. Menariknya, apakah benar demikian? Apakah rating hanya sebagai strategi industri media demi kepentingan mereka? Bagaimana masyarakat menyikapi suatu program acara di televisi?
Seperti telah diungkapkan di atas, suatu program acara yang popular diasumsikan melejit karena tingginya permintaan masyarakat pemirsa. Dengan asumsi ini, maka keberadaan suatu program acara di televisi sangat ditentukan oleh tingkat minat masyarakat pemirsa. Dalam banyak kasus, asumsi ini terbukti benar karena terdapat beragam program yang akhirnya tidak mampu bertahan karena masyarakat tidak lagi meminatinya. Ketidakmampuan program tersebut untuk bertahan ditandai dengan semakin berkurangnya frekuensi dan intensitas penayangan suatu program dan dalam kasus tertentu, program acara tersebut akhirnya sama sekali tidak ditayangkan.
Sebagai contoh, sepanjang tahun 2004 tayangan bertema mistik, goyang dangdut, seksualitas, kriminalitas, dan talent show menghiasi hampir seluruh stasiun televisi Indonesia. Program-program acara dengan tema tersebut cenderung menguasai jam tayang televisi. Akibatnya, masyarakat pun menjadi terbiasa menyisihkan waktunya untuk menikmati program-program tersebut bersama anggota keluarganya. Namun di tahun 2005, program-program popular di atas mulai ditinggalkan masyarakat pemirsa dan pihak stasiun televisi terpaksa mempertimbangkan keberadaan tayangan-tayangan tersebut.
Tayangan bertajuk talent show tetap dipertahankan namun proses waktu untuk mencari orang-orang berbakat tersebut diperpanjang. Sementara, program-program acara kriminalitas dikembalikan ke model pemberitaan. Lain halnya dengan tayangan bertema seksualitas dan goyang dangdut. Kedua jenis tayangan ini semakin berkurang frekuensi penayangannya dan jam tayangnya pun dipindahkan di luar waktu utama (prime time). Lain lagi dengan tayangan bertema mistik. Berbagai stasiun televisi yang sebelumnya berlomba-lomba menyajikan tayangan yang identik dengan perburuan makhluk gaib tersebut, tidak lagi memberikan tempat bagi tayangan sejenis. Pihak media menggantikan tayangan-tayangan tersebut dengan program acara popular lainnya yang sedang diminati masyarakat yaitu tayangan bernuansa religi .
Turunnya minat masyarakat terhadap suatu program popular dipandang pihak media lebih disebabkan bergesernya minat masyarakat terhadap suatu tema tayangan . Pergeseran minat tersebut ditandai pihak media dengan menurunnya rating suatu tayangan. Ketika lembaga survey seperti AC Nielsen menyatakan rating suatu program acara menurun dengan tajam, maka program tersebut tidak lagi dinyatakan sebagai program popular. Dengan laporan hasil rating inilah, pihak media menghitung untung-rugi penayangan suatu program acara.
Terlepas dari persoalan rating, pergeseran minat yang berakibat pada perubahan pola tontonan masyarakat dapat disebabkan oleh banyak hal. Kejenuhan dan penolakan masyarakat terhadap materi suatu program acara merupakan dua faktor utama yang mempengaruhi situasi tersebut. Faktor kejenuhan terkait dengan tingginya frekuensi dan intensitas penayangan suatu program acara yang sedang popular. Sementara, penolakan masyarakat terhadap suatu program yang popular terkait dengan materi tayangan yang dianggap bertentangan dengan norma-norma yang dipegang teguh masyarakat seperti norma agama, sosial, dan budaya. Faktor terakhir inilah yang kerap kali lebih mampu menggeser keberadaan suatu tayangan di televisi. Sebagai contoh, tayangan bertema mistis ditentang beberapa pihak karena dianggap mampu merusak keyakinan seseorang sedangkan tayangan bertema goyang dangdut dan seksualitas ditolak sebagian anggota masyarakat karena dianggap mampu merusak moral bahkan menyuburkan pornografi dan pornoaksi. Uniknya, faktor kejenuhan maupun penolakan masyarakat seakan-akan tidak menyentuh keberadaan salah satu program popular lainnya yaitu tayangan infotainment.

Jumat, 27 Januari 2012

Konsep Hidup Berkah

(Maria Ulfah, 01 08 034)

Makna Berkah
Setiap manusia pasti mendambakan hidup penuh berkah. Karena hidup penuh berkah itu nikmat dan membahagiakan. Berkah berasal dari bahasa Arab (barakah) yang berarti kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Berkah tidak sama dengan “Berkat” (jawa). Tapi memperoleh berkat bisa menjadi salah satu indikator hidup berkah. Barakah itu sendiri asal mula maknanya adalah al-nama’ wa al-ziyadah (bertumbuh dan bertambah).  

Mengapa Hidup harus Berkah?
Hidup penuh berkah adalah hidup yang dijalani dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya melalui amal ibadah demi meraih ridha-Nya. Ridha Allah swtadalah dambaan setiap Muslim. Keridhaan-Nya merupakan sumber kemakmuran jiwa dan ketenteraman hati, sehingga memancarkan cahaya kebaikan dan kebenaran dalam berbuat, berkarya, dan menjalani hidup pada umumnya.

Kunci Hidup Berkah
Hidup penuh berkah itu sangat ditentukan oleh enam sikap dan sifat terpuji. Pertama adalah sifat MALU. Malu adalah kunci keutamaan, sebab rasa malu membuat Muslim bersikap hati-hati untuk tidak melanggar larangan Allah. Nabi SAW. bersabda: "Malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan" (HR. al-Bukhari).
Kedua yaitu sikap dan sifat Syukur. Syukur adalah kunci peningkatan rezki. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, syukur merupakan pujian dan pengakuan hamba terhadap nikmat Allah yang disertai dengan rasa cinta dan ketaatan kepada-Nya. Allah swt berfirman:  "Jika kalian bersyukur, maka pasti akan aku tambahkan nikmat-Ku, dan sebaliknya jika kalian kufur, maka adzab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim [14]: 7).
Sikap yang ketiga yaitu ucapan yang baik (al-Kalam al-Thayyib). Tutur kata yang baik merupakan kunci terbukanya hati. Baik dalam berbicara adalah sedekah dan memberi senyuman kepada sesama merupakan sedekah yang paling ringan dan mudah. 
Sifat selanjutnya yaitu birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Berbakti kepada orang tua  merupakan kunci keridhaan. Keridhaan dan do’a orang tua merupakan pintu masuk segala kebaikan dan keberkahan. Nabi saw bersabda: “Siapa yang membuat orang tuanya ridha, maka Allah akan meridhainya. Sebaliknya, siapa yang membuat orang tua murka, maka Allah akan memurkainya.”(HR. Al-Bukhari).
Sifat yang juga dibutuhkan dalam mencapai hidup berkah adalah Qana’ah (merasa cukup). Sifat ini merupakan kunci kekayaan. Orang yang bersifat qana’ah tidak akan serakah dan egois, sehingga ia tidak mudah tergoda oleh kekayaan duniawi. Sabda Nabi SAW.: “Kekayaan bukanlah terletak pada banyaknya harta. Kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sikap terakhir yang harus dimiliki untuk meraih hidup berkah yaitu konsisten dalam berdoa. Doa merupakan kunci segala kebaikan dan ketenteraman jiwa. Doa adalah kekuatan spiritual yang mengantarkan hamba kepada kepasrahan diri kepada Allah, sikap optimis, dan baik sangka kepada-Nya.

Manfaat Menangis

(Maria Ulfah, 01 08 034)

Menangis sudah menjadi identitas manusia sejak dilahirkan. Menangis merupakan hal pertama yang bisa dilakukan generasi Adam dan Hawa di bumi ini. Sebelum bisa bicara, sebelum mampu tertawa, sebelum siap berjalan, tangis itu sudah ada pada diri tiap manusia. Tanpa diajarkan pun, semua bayi, semua anak, semua manusia bisa menangis karena tangis merupakan fitrah yang melekat pada diri kemanusiaan.
Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi perasaan manusia. Menangis bukanlah hal yang memalukan bahkan ekspresi perasaan terdalam ini memberikan banyak dampak positif. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa menangis bermanfaat secara psikologis dan medis. Secara psikologis menangis bermanfaat untuk:
1.    Meningkatkan mood. Menangis bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan  terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh.  
2.    Mengurangi stress. Penelitian menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
3.    Melegakan perasaan. Setelah menangis, berbagai masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak,  serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega. Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak.
4.    Menghalangi agresivitas. Orang yang sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan bersikap lebih agresif bahkan destruktif. Emosi yang diluapkan dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah
Dari sisi medis, menangis juga memiliki manfaat yang tidak kalah menakjubkan yaitu:
1.    Membantu penglihatan. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
2.    Membunuh bakteri. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Tanpa obat tetes mata, sebenarnya mata sudah mempunyai proteksi sendiri. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 % bakteri yang tertinggal hanya dalam 5 menit. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri.
3.    Mengeluarkan racun. William Frey, seorang ahli biokimia yang telah melakukan beberapa studi tentang air mata menyatakan bahwa air mata yang keluar saat menangis karena faktor emosional ternyata mengandung racun. Jadi, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa racun dari dalam tubuh terbawa dan dikeluarkan melalui mata.
4.    Membantu melawan penyakit. Selain menurunkan level stress, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi. Bagaimanapun, perasaan tertekan dan tersakiti bisa membuat seseorang stres. Endapan stres yang terpendam dengan menahan tangisan inilah yang sering menimbulkan gejala tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya yang dipicu oleh stres.

Rabu, 04 Januari 2012

Aksi FBR di Awal Tahun 2012

Maria Ulfah, 01 08 034

Di awal tahun 2012 ini, masyarakat ibukota kembali disajikan dengan sejumlah berita kekerasan. Salah satunya yaitu berita bentrokan antara ormas Forum Betawi Rempug (FBR) dengan Pemuda Pancasila (PP). Bentrokan tersebut tidak hanya terjadi sekali. Sepanjang Senin 2 Januari 2012 tercatat 3 bentrokan terjadi di tiga lokasi yang berbeda.
Bentrokan pertama terjadi hari Senin 2 Januari 2012 pukul 02.00 dini hari. Lokasi bentrok berada di Jalan Raden Fatah, Ciledug Tangerang Selatan. Kapolsek Metro Ciledug Komisaris Sukiman mengatakan, bentrokan bermula saat anggota salah satu ormas mencopot paksa atribut, berupa bendera, milik ormas lainnya. Hal tersebut memicu ketegangan di antara kedua ormas, yaitu Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Betawi Rempug (FBR).
Akibatnya, dua orang terluka, yakni satu anggota FBR yang mengalami luka gores di bagian kelingking kanan, satu lagi anggota PP yang mengalami luka sabet di pergelangan tangan.
Sore harinya, bentrok antara FBR dan PP kembali terjadi di dekat Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, mengatakan bentrokan antara FBR dan PP pecah sekitar pukul 18.00.
"Ini peristiwa rentetan akibat pencopotan bendera salah satu di antara ormas itu. Mereka terus bergerak dari satu titik ke titik lain, seperti tadi malam di Ciledug, kali ini di Kebayoran Lama," ungkap Budi, Senin (2/1/2012).
Sekitar 30 orang massa dari FBR kemudian menyambangi markas PP yang dianggap bertanggung jawab atas pencopotan bendera itu. Mereka lalu merusak gardu pos PP dan tiga buah sepeda motor yang terparkir di dekat pos.
Senin sore, ratusan anggota FBR juga melakukan sweeping di lokasi bentrok pertama yaitu di Jalan Raden Fatah, Ciledug. Tindakan tersebut dilakukan dengan dalih mencari pelaku perusakan posko FBR serta mencari pelaku pengeroyokan anggota mereka.
"Ada anggota kami yang dikeroyok ormas lain, maka hari ini kami akan sweeping anggota ormas PP yang melakukan kekerasan di wilayah kami," kata Syahrul Gozali, selaku Panglima FBR Se-Jabodetabek.
Sejumlah aparat kepolisian dari Kepolisian Resor Metro Tangerang, berhasil meredam aksi massa. Setelah berdialog, akhirnya massa FBR membubarkan diri. Namun sejumlah orang yang diduga anggota FBR justru merusak mobil angkutan umum jurusan Poris - Cikokol di Jalan Hasyim Asyari saat dalam perjalanan pulang.
Malam harinya, bentrokan antara Forum Betawi Rempug dengan Pemuda Pancasila kembali terjadi ditempat lainnya. Bentrok keduanya pecah di Jalan Raya Jombang di sekitar Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangerang Selatan.

Dirangkum dari:
 detiknews.com, inilah.com, kompas.com, metrotvnews.com.