OLEH: RITA LESTARI
Masih melekat dalam benak kita bunyi pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang dulu senantiasa kita ulang dan hafalkan semasa di bangku sekolah dasar. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, begitu kurang lebih bunyinya. Namun, memiliki realitas dan fakta di lapangan maka sudah selayaknya bunyi pasal tersebut direvisi agar lebih relevan.
Coba kita tengok buku keuangan Indonesia, APBN tahun 2012 negara kita mempunyai anggaran 1200 triliun. Omset pengelolaan keuangan dengan nominal yang luar biasa besar, yang belum tertandingi oleh perusahaan internasional pun yang sekelas IBM. Berapa persen dari dana itu yang benar-beanr untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar? Lalu bandingkan dengan anggaran yang digunakan untuk belanja pegawai negeri dan aparatur negara, maka dahi anda akan otomatis mengernyit keheranan.
Hampir 50% dari anggaran kita, dihabiskan untuk menghidupi segelintir orang yang menjabat dalam dunia birokrasi. Memberi mereka gaji, uang beras, uang lauk pauk, pakaian, seragam, rumah dinas, mobil dinas dan tunjangan ini itu yang dengan itu semua masih saja para pekerja negara itu mencari-cari celah untuk bisa mengantongi uang negara yang lebih banyak lagi.
Sedangkan fakir miskin dan anak-anak terlantar tetap saja miskin dan terlantar. Tampuk kenegaraan yang bergulir di beberapa nama parpol, tetap saja tidak mengubah keadaan mereka. Bahkan jumlah mereka semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan kondisi yang semakin memiriskan. Padahal mereka selalu dijadikan senjata parpol untuk memenangkan partainya. Tapi apa daya, bukankah di negeri ini memang pegawai dan aparaturnya saja yang dipelihara dan dihadapi oleh negara?!
Tampilkan postingan dengan label Rita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Januari 2012
DEKLARASI AIR AKAN TUHAN
oleh: Rita
Apakah anda pernah berfikir, bahwa Alloh telah menciptakan dunia ini sungguh dengan tidak main-main? Benar-benar tidak main-main!!! Dengan perhitungan yang sangat teliti. Dengan sistem maha kompleks dan maha dahsyat yang berjalan dengan kehendak-Nya tanpa perlu sedikitpun campur tangan manusia dan bahkan bisa jadi manusia itu tak menyadari karena menganggapnya hanya sebagai suatu yang biasa.
Satu hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, salah satunya adalah tentang hakikat air. Saya tidak tau apakah sudah pernah ada ahli yang meneliti dan menarik kesimpulan dari hal ini. Tapi bagi saya, hal ini mengusik rasa keingintahuan saya walaupun saya tidak tertarik untuk mengadakan penelitian yang lebih jauh tentangnya. Saya hanya bisa mengambil dari penglihatan secara umum. Cara bodoh, begitu orang pintar berkata. Namun cara ini rupanya yang bisa dengan mudah diterima oleh akal saya yang belum bersentuhan dengan dunia penelitian ilmiah.
Tentu saja ini bukan tentang sifat air yang Alloh ciptakan begitu luar biasa. Dia bisa menjadi cair, bisa menjadi padat, pun bisa menjadi uap. Atau juga air yang begitu rapuh, namun ketika jumlahnya berlimpah maka ia bisa mengangkat kapal-kapal besar dengan muatan yang berlimpah pula. Dan bahkan ia bisa menggila dalam amuk tsunami yang membabat habis bangunan-bangunan tinggi kokoh hasil peradaban modern manusia. Juga sifat anomali air yang tidak dimiliki oleh benda apapun selainnya dimana ketika semua benda akan memuai ketika dipanaskan, maka air pada suhu 0-4 derajat celcius ketika dipanaskan justru mengalami penyusutan.
Ya, bukan itu yang ingin saya utarakan. Karena hal tersebut telah dibahas oleh para fisikawan dan bukan ladang saya untuk mengomentarinya. Saya tau diri, karena bagaimanapun juga fisika adalah ilmu yang paling tidak saya minati.
Yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya adalah pemikiran “apakah jumlah air di muka bumi ini dari awal penciptaannya hingga nanti kiamat kubra itu akan tetap stabil terus?” Dalam artian bahwa sebenarnya volume dan jumlah air itu sama sekali tak berubah. Tidak berkurang dan tidak pula bertambah. Hanya perwujudannya saja yang berbeda. Mungkinkah?
Sebagaimana kita telah ketahui bersama, tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air. Lalu jika air itu bisa 'menghilang' karena telah terpakai atau karena proses pembakaran yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup, maka bisa dibayangkan bahwa air di bumi pastilah telah 'menghilang' banyak sekali. Apakah kita pernah berfikir dari nabi adam hingga kita ada berapa milyar manusia yang pernah hidup dan menggunakan air untuk konsumsinya? Ada berapa banyak hewan dengan segala macam jenisnya? Dan tumbuhan seluruhnya, pun bahkan rumput-rumput juga tak lepas dari penggunaan air ini. Lalu apakah setelah digunakan sebegitu banyaknya makhluk hidup dari masa bermula pertama kalinya, air di bumi mengalami penyusutan? Apakah lautan itu dari tahun ke tahun mengalami penurunan volume airnya?
Subhanalloh... saya pikir tidak. Karena tidak terbayang bagi diri saya sendiri jika air itu benar-benar bisa 'musnah/tiada'. Menurut saya sebagaimana energi maka air itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat pula dimusnahkan, hanya bisa dirubah dalam bentuk lain. Jadi pada hakikatnya jumlah air di bumi ini akan selalu sama. Karena jika air itu benar-benar bisa 'habis' maka mungkin sekali hari ini kita akan mengalami kelangkaan air yang merata. Atau anak cucu kita nanti yang merasakannya. Tapi tidak bukan?? Terlintas dalam bayangan kita pun tak pernah kan?? Maha Baik Alloh selalu mencukupi kita dengan air itu sebanyak apapun jumlah makhluk hidup yang ada. Dan bahkan kiamat pun bukan terjadi karena jumlah air di bumi yang semakin menipis adanya.
Manusia, hewan, dan tumbuhan pada pemikiran saya hanyalah 'meminjam' air saja dari alam ini. Ia tidak benar-benar menggunakan dan menghabiskannya. Jika ia meminum air maka air itu sebagiannya akan dikeluarkan lagi secara langsung melalui keringat, urine, feses, dan mungkin nafas kita (entahlah, kalo secara kimia udara yang kita keluarkan adalah CO2 tapi kenapa nafas kita setiap kali dibenturkan dengan benda yang padat misal kaca/cermin akan menyebabkan semacam kabut. Saya tidak tahu mengenai hal ini). Kemudian sebagian lagi kita pinjam untuk menumbuhkembangkan diri kita. Untuk menciptakan sel-sel baru, regenerasi sel yang rusak, elemen pembentukan darah dst. Namun, saya bilang ini hanya meminjam karena pada waktunya nanti kita akan mengembalikannya lagi ke alam. Secara sistemik tentu saja. Tanpa kita perlu repot-repot untuk berpikir bagaimana ya caranya?
Lalu kapan kita akan mengembalikannya? Ya tentu saja saat kita sudah mati. Semua air pada tubuh kita akan kembali meresap ke dalam tanah setelah tubuh kita membusuk dan diuraikan oleh bakteri pengurai hingga benar-benar habis tak bersisa. Air dari tubuh kita dan tubuh manusia-manusia lain, hewan, dan juga tumbuhan yang sudah mati tadi maka akan kembali ke bumi dan siap dipinjam oleh manusia, hewan, dan tumbuhan yang lain lagi...
Lalu bagaimana dengan kekeringan yang melanda sebagian wilayah, bukankah itu bukti bahwa air itu bisa habis? Tentu saja air bisa 'kelihatan' habis di suatu wilayah. Namun bukan berarti jumlah air di muka bumi ini berkurang. Hal tersebut bisa saja terjadi karena air yang biasanya ada di daerah tersebut, karena suatu hal maka terakumulasi di tempat lain atau mungkin dalam wujud yang lain. Sebagai contoh mungkin karena lama tidak hujan jadinya cadangan air tanah di tempat tersebut habis. Namun bisa dipastikan bahwa air itu kemungkinan masih terakumulasi di lautan karena penguapan air laut yang disebabkan ada faktor tertentu menjadi lambat sehingga terbentuknya awan pun lama. Atau bisa juga awan yang biasanya membawa hujan untuk daerah itu, dibawa angin ke daerah lain dan hujan pun turun di daerah lain itu sehingga akumulasi air tadi beralih tempat. Bukankah hak Alloh untuk mengaruniakan rizki kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan hak Dia pula untuk mencabutnya dari sesiapa yang Dia kehendaki?? Luar biasa bukan Tuhan kita??
Mungkin anda akan berkata, ga masuk akal! Ini hanya omongan orang nglindur. Ya monggo aja. Dari awal kan saya sudah bilang ini hanya hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya. Untuk mengetahui kebenarannya, ya silakan diteliti lebih lanjut. Namun, hal yang ingin saya tekankan di sini adalah mustahil jika Tuhan itu tidak ada. Sebagaimana mustahilnya bahwa setiap apapun itu hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang mengatur dan tiba-tiba saja ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Karena saat kita mau menggunakan sedikit saja akal kita, kita akan menemukan bahwa segala sesuatu itu telah diatur sedemikian rupa. Hingga pada detail-detail terkecil, yang terlintas dalam benak kita pun tidak. Semuanya berjalan atas satu kehendak. Kehendak-Nya. Baik kita sadar maupun tidak.. Baik kita mengakuinya maupun kita mengingkarinya..
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al - Qamar : 49)
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al - Furqan : 2)
Dan airpun telah mendeklarasikan keberadaan-Nya, sebagaimana deklarasi setiap sesuatu yang ada. Kecuali manusia, karena ia telah diberikan amanah untuk memilih sendiri jalan yang ingin ditempuhnya setelah hujjah dijelaskan dengan seterang-terangnya dan ditegakkan dengan sempurna. Percaya atau ingkar. Beriman atau kafir. Surga atau neraka.
Apakah anda pernah berfikir, bahwa Alloh telah menciptakan dunia ini sungguh dengan tidak main-main? Benar-benar tidak main-main!!! Dengan perhitungan yang sangat teliti. Dengan sistem maha kompleks dan maha dahsyat yang berjalan dengan kehendak-Nya tanpa perlu sedikitpun campur tangan manusia dan bahkan bisa jadi manusia itu tak menyadari karena menganggapnya hanya sebagai suatu yang biasa.
Satu hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, salah satunya adalah tentang hakikat air. Saya tidak tau apakah sudah pernah ada ahli yang meneliti dan menarik kesimpulan dari hal ini. Tapi bagi saya, hal ini mengusik rasa keingintahuan saya walaupun saya tidak tertarik untuk mengadakan penelitian yang lebih jauh tentangnya. Saya hanya bisa mengambil dari penglihatan secara umum. Cara bodoh, begitu orang pintar berkata. Namun cara ini rupanya yang bisa dengan mudah diterima oleh akal saya yang belum bersentuhan dengan dunia penelitian ilmiah.
Tentu saja ini bukan tentang sifat air yang Alloh ciptakan begitu luar biasa. Dia bisa menjadi cair, bisa menjadi padat, pun bisa menjadi uap. Atau juga air yang begitu rapuh, namun ketika jumlahnya berlimpah maka ia bisa mengangkat kapal-kapal besar dengan muatan yang berlimpah pula. Dan bahkan ia bisa menggila dalam amuk tsunami yang membabat habis bangunan-bangunan tinggi kokoh hasil peradaban modern manusia. Juga sifat anomali air yang tidak dimiliki oleh benda apapun selainnya dimana ketika semua benda akan memuai ketika dipanaskan, maka air pada suhu 0-4 derajat celcius ketika dipanaskan justru mengalami penyusutan.
Ya, bukan itu yang ingin saya utarakan. Karena hal tersebut telah dibahas oleh para fisikawan dan bukan ladang saya untuk mengomentarinya. Saya tau diri, karena bagaimanapun juga fisika adalah ilmu yang paling tidak saya minati.
Yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya adalah pemikiran “apakah jumlah air di muka bumi ini dari awal penciptaannya hingga nanti kiamat kubra itu akan tetap stabil terus?” Dalam artian bahwa sebenarnya volume dan jumlah air itu sama sekali tak berubah. Tidak berkurang dan tidak pula bertambah. Hanya perwujudannya saja yang berbeda. Mungkinkah?
Sebagaimana kita telah ketahui bersama, tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air. Lalu jika air itu bisa 'menghilang' karena telah terpakai atau karena proses pembakaran yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup, maka bisa dibayangkan bahwa air di bumi pastilah telah 'menghilang' banyak sekali. Apakah kita pernah berfikir dari nabi adam hingga kita ada berapa milyar manusia yang pernah hidup dan menggunakan air untuk konsumsinya? Ada berapa banyak hewan dengan segala macam jenisnya? Dan tumbuhan seluruhnya, pun bahkan rumput-rumput juga tak lepas dari penggunaan air ini. Lalu apakah setelah digunakan sebegitu banyaknya makhluk hidup dari masa bermula pertama kalinya, air di bumi mengalami penyusutan? Apakah lautan itu dari tahun ke tahun mengalami penurunan volume airnya?
Subhanalloh... saya pikir tidak. Karena tidak terbayang bagi diri saya sendiri jika air itu benar-benar bisa 'musnah/tiada'. Menurut saya sebagaimana energi maka air itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat pula dimusnahkan, hanya bisa dirubah dalam bentuk lain. Jadi pada hakikatnya jumlah air di bumi ini akan selalu sama. Karena jika air itu benar-benar bisa 'habis' maka mungkin sekali hari ini kita akan mengalami kelangkaan air yang merata. Atau anak cucu kita nanti yang merasakannya. Tapi tidak bukan?? Terlintas dalam bayangan kita pun tak pernah kan?? Maha Baik Alloh selalu mencukupi kita dengan air itu sebanyak apapun jumlah makhluk hidup yang ada. Dan bahkan kiamat pun bukan terjadi karena jumlah air di bumi yang semakin menipis adanya.
Manusia, hewan, dan tumbuhan pada pemikiran saya hanyalah 'meminjam' air saja dari alam ini. Ia tidak benar-benar menggunakan dan menghabiskannya. Jika ia meminum air maka air itu sebagiannya akan dikeluarkan lagi secara langsung melalui keringat, urine, feses, dan mungkin nafas kita (entahlah, kalo secara kimia udara yang kita keluarkan adalah CO2 tapi kenapa nafas kita setiap kali dibenturkan dengan benda yang padat misal kaca/cermin akan menyebabkan semacam kabut. Saya tidak tahu mengenai hal ini). Kemudian sebagian lagi kita pinjam untuk menumbuhkembangkan diri kita. Untuk menciptakan sel-sel baru, regenerasi sel yang rusak, elemen pembentukan darah dst. Namun, saya bilang ini hanya meminjam karena pada waktunya nanti kita akan mengembalikannya lagi ke alam. Secara sistemik tentu saja. Tanpa kita perlu repot-repot untuk berpikir bagaimana ya caranya?
Lalu kapan kita akan mengembalikannya? Ya tentu saja saat kita sudah mati. Semua air pada tubuh kita akan kembali meresap ke dalam tanah setelah tubuh kita membusuk dan diuraikan oleh bakteri pengurai hingga benar-benar habis tak bersisa. Air dari tubuh kita dan tubuh manusia-manusia lain, hewan, dan juga tumbuhan yang sudah mati tadi maka akan kembali ke bumi dan siap dipinjam oleh manusia, hewan, dan tumbuhan yang lain lagi...
Lalu bagaimana dengan kekeringan yang melanda sebagian wilayah, bukankah itu bukti bahwa air itu bisa habis? Tentu saja air bisa 'kelihatan' habis di suatu wilayah. Namun bukan berarti jumlah air di muka bumi ini berkurang. Hal tersebut bisa saja terjadi karena air yang biasanya ada di daerah tersebut, karena suatu hal maka terakumulasi di tempat lain atau mungkin dalam wujud yang lain. Sebagai contoh mungkin karena lama tidak hujan jadinya cadangan air tanah di tempat tersebut habis. Namun bisa dipastikan bahwa air itu kemungkinan masih terakumulasi di lautan karena penguapan air laut yang disebabkan ada faktor tertentu menjadi lambat sehingga terbentuknya awan pun lama. Atau bisa juga awan yang biasanya membawa hujan untuk daerah itu, dibawa angin ke daerah lain dan hujan pun turun di daerah lain itu sehingga akumulasi air tadi beralih tempat. Bukankah hak Alloh untuk mengaruniakan rizki kepada sesiapa yang Ia kehendaki dan hak Dia pula untuk mencabutnya dari sesiapa yang Dia kehendaki?? Luar biasa bukan Tuhan kita??
Mungkin anda akan berkata, ga masuk akal! Ini hanya omongan orang nglindur. Ya monggo aja. Dari awal kan saya sudah bilang ini hanya hal yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya. Untuk mengetahui kebenarannya, ya silakan diteliti lebih lanjut. Namun, hal yang ingin saya tekankan di sini adalah mustahil jika Tuhan itu tidak ada. Sebagaimana mustahilnya bahwa setiap apapun itu hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang mengatur dan tiba-tiba saja ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Karena saat kita mau menggunakan sedikit saja akal kita, kita akan menemukan bahwa segala sesuatu itu telah diatur sedemikian rupa. Hingga pada detail-detail terkecil, yang terlintas dalam benak kita pun tidak. Semuanya berjalan atas satu kehendak. Kehendak-Nya. Baik kita sadar maupun tidak.. Baik kita mengakuinya maupun kita mengingkarinya..
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al - Qamar : 49)
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al - Furqan : 2)
Dan airpun telah mendeklarasikan keberadaan-Nya, sebagaimana deklarasi setiap sesuatu yang ada. Kecuali manusia, karena ia telah diberikan amanah untuk memilih sendiri jalan yang ingin ditempuhnya setelah hujjah dijelaskan dengan seterang-terangnya dan ditegakkan dengan sempurna. Percaya atau ingkar. Beriman atau kafir. Surga atau neraka.
MENIMBANG AMAL
oleh: RITA
Apakah anda saat ini sedang mengerjakan hal-hal besar? Jika iya, maka selamat untuk Anda, karena para pahlawan memang dilahirkan untuk memikul amanah-amanah besar yang tidak bisa dipikul oleh sembarang orang. Namun tunggu dulu, label ‘hal besar’ itu dipandang dari perspektif Anda sendiri, orang-orang umum di sekitar Anda, atau dari kaca mata siapa?
Kenapa saya menanyakan hal ini? karena saya sadar bahwa saya dan mungkin juga Anda, sering sekali menilai bobot suatu pekerjaan hanya dari lahirnya dan dari perspektif manusia-manusia di sekitar kita saja. Dengan melupakan perspektif lain yang jauh lebih krusial bagi diri kita.
Besar kecilnya pekerjaan jika dalam fiqh aulawiyat (fiqh prioritas) dipandang dari empat kaidah dasar, dimulai dari pekerjaan yang penting dan mendesak, pekerjaan yang tidak penting tapi mendesak, pekerjaan yang penting tapi tidak mendesak, serta pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. Penekanan mana pekerjaan yang harus didahulukan dalam buku tersebut mengacu pada ‘deadline’ pekerjaan. Hal tersebut tentu saja akan membuat hidup kita lebih sistematis dan membantu kita tidak salah kaprah dalam memanajemen usia kita yang sangat singkat itu, agar tidak habis hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak berguna. Namun, sebelum kita menjadikan program prioritas ini sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘watak’ kita, maka akan lebih baik jika kita mempunyai ilmu tentang bagaimana menimbang besaran pekerjaan, amanah, atau amal; agar kita tidak salah memprioritaskan.
Jika misalnya saat ini Anda dihadapkan pada situasi dimana Anda diundang untuk menghadiri jamuan makan dengan Presiden bersama ratusan tamu yang lain, dan dalam waktu yang sama Anda juga menerima undangan dari panti asuhan untuk berbuka puasa dengan anak-anak yatim; maka undangan mana yang akan Anda hadiri?
Kalau saya bertanya kepada diri saya, maka tanpa berpikir lagi saya akan memenuhi undangan yang pertama dengan segera. Saya akan mempersiapkan momen itu jauh-jauh hari. Pakaian mana yang akan dipakai, jika dirasa sudah tidak ada yang ‘layak’ untuk menghadap orang nomor satu di negeri ini, maka dengan senang hati saya akan merogoh kocek saya untuk membelinya. Kendaraan yang akan digunakan untuk pergi ke sana. Make up untuk mempercantik wajah saya [walaupun mau di make up kayak apa ya gini-gini aja pastinya ;p], dll. Wajar dong, secara mungkin kesempatan itu tidak akan datang dua kali dalam hidup saya. Sedangkan ke panti asuhan bisa kapan saja.
Yah begitulah, saya masih sering memandang sesuatu hal hanya dari kemasan luarnya. Tentang prestise, gengsi, dan kebanggaan pribadi. Tentang apa dan bagaimana orang akan memandang saya. Semuanya terhenti pada manfaat dunia. Tanpa saya mencoba melihat nilai manfaat di akhirat nanti. Benarkah apa yang saya anggap besar tadi juga besar dalam timbangan-Nya? Bagaimana jika saya sudah merasa melakukan banyak amalan besar di dunia tapi termasuk dalam yang tersebut dalam QS. Al-Furqan ayat 23: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan (amalan) itu bagaikan debu yang beterbangan.”
Padahal hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang amalan kecil yang berat timbangannya dan juga tentang amalan besar yang tak ada nilainya itu bejibun banyaknya. Cuma kok ya tarikan dunia itu begitu menggoda. Sehingga kita masih saja seringkali mengabaikan hal-hal yang dalam perspektif kita kecil, dengan melupakan akibat di akhirat nantinya.
Tentu kita masih ingat kisah tentang seorang pezina yang diampuni oleh Allah swt karena berbaik hati memberi minum anjing yang kehausan sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim dan juga shahih Bukhari.
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita pezina melihat seekor anjing yang berputar-putar di atas sumur pada hari yang panas. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu menimba air dari sumur dengan sepatunya, maka dia diampuni.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni. Dia melewati seekor anjing di bibir sumur yang sedang menjulurkan lidahnya. Ia hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengikat dengan kerudungnya dan menimba air dengannya untuk anjing itu. Dia diampuni karenanya.” (HR. Bukhari)
Itu adalah contoh amal baik kecil yang membawa nikmat yang teramat besar. Ada juga contoh amal buruk kecil yang membawa petaka yang teramat besar pula, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi.”
Bukankah amal baik dan amal buruk yang membawa ke surga dan neraka dari hadis di atas menurut hemat kita bukanlah hal-hal yang bisa dianggap sebagai hal besar? Bahkan terlihat remeh temeh semata. Hanya karena keberlangsungan hidup seekor anjing dan kucing. Bukan tentang kehidupan seorang manusia atau masa depan masyarakat/umat. Ya, hanya karena hewan. Yang salah satunya bahkan ‘hanyalah’ hewan yang najis. Tapi begitulah cara Allah swt melalui Rasul-Nya mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menganggap enteng suatu amalan yang nampak kecil, karena kita tidak pernah tahu mungkin saja amal kecil itulah yang akan mengantarkan kita ke surga atau menjerumuskan kita ke neraka.
Maka sebelum usia kita habis untuk mengurusi hal-hal yang ‘nampak besar’, tak ada salahnya juga kita menyelipkan dalam aktivitas kita amal-amal sederhana. Bermuka manis di depan teman, mendahului salam, memberi senyuman, menata sendal, menyingkirkan duri/batu di tempat yang banyak dilalui orang, memungut sampah yang tercecer, dan banyak amal lain yang sebelumnya terabai dan tak terbetik dalam benak kita akan menjadi tangga menuju surga. Karena sungguh, amal kecil bisa bernilai sangat besar dengan niat yang baik dan benar.
Azamkan juga niat dalam hati untuk menghindarkan diri dari perkara-perkara kecil yang tidak baik seperti bermuka masam, membuang sampah kecil (bekas tisu, puntung rokok, bungkus permen) sembarangan, tidak meminta ijin memakai barang kepunyaan seseorang yang ditaruh di tempat bersama (sendal, pasta gigi, sisir dll) dan sederet adat buruk yang telah menjadi kebiasaan, karena bisa jadi hal-hal sepele itu yang akan menjatuhkan kita ke jurang kebinasaan. Bukankah orang sering kali terjatuh bukan karena menabrak batu besar di hadapannya, tetapi mereka terjatuh justru karena tersandung/tergelincir kerikil kecil yang tak nampak dalam penglihatan..?!
Apakah anda saat ini sedang mengerjakan hal-hal besar? Jika iya, maka selamat untuk Anda, karena para pahlawan memang dilahirkan untuk memikul amanah-amanah besar yang tidak bisa dipikul oleh sembarang orang. Namun tunggu dulu, label ‘hal besar’ itu dipandang dari perspektif Anda sendiri, orang-orang umum di sekitar Anda, atau dari kaca mata siapa?
Kenapa saya menanyakan hal ini? karena saya sadar bahwa saya dan mungkin juga Anda, sering sekali menilai bobot suatu pekerjaan hanya dari lahirnya dan dari perspektif manusia-manusia di sekitar kita saja. Dengan melupakan perspektif lain yang jauh lebih krusial bagi diri kita.
Besar kecilnya pekerjaan jika dalam fiqh aulawiyat (fiqh prioritas) dipandang dari empat kaidah dasar, dimulai dari pekerjaan yang penting dan mendesak, pekerjaan yang tidak penting tapi mendesak, pekerjaan yang penting tapi tidak mendesak, serta pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. Penekanan mana pekerjaan yang harus didahulukan dalam buku tersebut mengacu pada ‘deadline’ pekerjaan. Hal tersebut tentu saja akan membuat hidup kita lebih sistematis dan membantu kita tidak salah kaprah dalam memanajemen usia kita yang sangat singkat itu, agar tidak habis hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak berguna. Namun, sebelum kita menjadikan program prioritas ini sebagai bagian tak terpisahkan dari ‘watak’ kita, maka akan lebih baik jika kita mempunyai ilmu tentang bagaimana menimbang besaran pekerjaan, amanah, atau amal; agar kita tidak salah memprioritaskan.
Jika misalnya saat ini Anda dihadapkan pada situasi dimana Anda diundang untuk menghadiri jamuan makan dengan Presiden bersama ratusan tamu yang lain, dan dalam waktu yang sama Anda juga menerima undangan dari panti asuhan untuk berbuka puasa dengan anak-anak yatim; maka undangan mana yang akan Anda hadiri?
Kalau saya bertanya kepada diri saya, maka tanpa berpikir lagi saya akan memenuhi undangan yang pertama dengan segera. Saya akan mempersiapkan momen itu jauh-jauh hari. Pakaian mana yang akan dipakai, jika dirasa sudah tidak ada yang ‘layak’ untuk menghadap orang nomor satu di negeri ini, maka dengan senang hati saya akan merogoh kocek saya untuk membelinya. Kendaraan yang akan digunakan untuk pergi ke sana. Make up untuk mempercantik wajah saya [walaupun mau di make up kayak apa ya gini-gini aja pastinya ;p], dll. Wajar dong, secara mungkin kesempatan itu tidak akan datang dua kali dalam hidup saya. Sedangkan ke panti asuhan bisa kapan saja.
Yah begitulah, saya masih sering memandang sesuatu hal hanya dari kemasan luarnya. Tentang prestise, gengsi, dan kebanggaan pribadi. Tentang apa dan bagaimana orang akan memandang saya. Semuanya terhenti pada manfaat dunia. Tanpa saya mencoba melihat nilai manfaat di akhirat nanti. Benarkah apa yang saya anggap besar tadi juga besar dalam timbangan-Nya? Bagaimana jika saya sudah merasa melakukan banyak amalan besar di dunia tapi termasuk dalam yang tersebut dalam QS. Al-Furqan ayat 23: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan (amalan) itu bagaikan debu yang beterbangan.”
Padahal hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang amalan kecil yang berat timbangannya dan juga tentang amalan besar yang tak ada nilainya itu bejibun banyaknya. Cuma kok ya tarikan dunia itu begitu menggoda. Sehingga kita masih saja seringkali mengabaikan hal-hal yang dalam perspektif kita kecil, dengan melupakan akibat di akhirat nantinya.
Tentu kita masih ingat kisah tentang seorang pezina yang diampuni oleh Allah swt karena berbaik hati memberi minum anjing yang kehausan sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim dan juga shahih Bukhari.
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita pezina melihat seekor anjing yang berputar-putar di atas sumur pada hari yang panas. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu menimba air dari sumur dengan sepatunya, maka dia diampuni.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita pezina diampuni. Dia melewati seekor anjing di bibir sumur yang sedang menjulurkan lidahnya. Ia hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengikat dengan kerudungnya dan menimba air dengannya untuk anjing itu. Dia diampuni karenanya.” (HR. Bukhari)
Itu adalah contoh amal baik kecil yang membawa nikmat yang teramat besar. Ada juga contoh amal buruk kecil yang membawa petaka yang teramat besar pula, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda, “Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi.”
Bukankah amal baik dan amal buruk yang membawa ke surga dan neraka dari hadis di atas menurut hemat kita bukanlah hal-hal yang bisa dianggap sebagai hal besar? Bahkan terlihat remeh temeh semata. Hanya karena keberlangsungan hidup seekor anjing dan kucing. Bukan tentang kehidupan seorang manusia atau masa depan masyarakat/umat. Ya, hanya karena hewan. Yang salah satunya bahkan ‘hanyalah’ hewan yang najis. Tapi begitulah cara Allah swt melalui Rasul-Nya mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menganggap enteng suatu amalan yang nampak kecil, karena kita tidak pernah tahu mungkin saja amal kecil itulah yang akan mengantarkan kita ke surga atau menjerumuskan kita ke neraka.
Maka sebelum usia kita habis untuk mengurusi hal-hal yang ‘nampak besar’, tak ada salahnya juga kita menyelipkan dalam aktivitas kita amal-amal sederhana. Bermuka manis di depan teman, mendahului salam, memberi senyuman, menata sendal, menyingkirkan duri/batu di tempat yang banyak dilalui orang, memungut sampah yang tercecer, dan banyak amal lain yang sebelumnya terabai dan tak terbetik dalam benak kita akan menjadi tangga menuju surga. Karena sungguh, amal kecil bisa bernilai sangat besar dengan niat yang baik dan benar.
Azamkan juga niat dalam hati untuk menghindarkan diri dari perkara-perkara kecil yang tidak baik seperti bermuka masam, membuang sampah kecil (bekas tisu, puntung rokok, bungkus permen) sembarangan, tidak meminta ijin memakai barang kepunyaan seseorang yang ditaruh di tempat bersama (sendal, pasta gigi, sisir dll) dan sederet adat buruk yang telah menjadi kebiasaan, karena bisa jadi hal-hal sepele itu yang akan menjatuhkan kita ke jurang kebinasaan. Bukankah orang sering kali terjatuh bukan karena menabrak batu besar di hadapannya, tetapi mereka terjatuh justru karena tersandung/tergelincir kerikil kecil yang tak nampak dalam penglihatan..?!
Langganan:
Postingan (Atom)