Fitri Komala Sari
Hidup memang penuh perjuangan, sering kali duka datang melanda tetapi sekali saja hembusan angin datang mampu mengobati kegersangan hati yang terjangkit menahun. Saat kita sekolah dulu, sibuk dan stres rasanya menghadapi PR yang selalu menumpuk dan dituntut untuk diselesaikan. Sering kali sudah berusaha dengan sekuat tenaga pun tak mampu kita meraih nilai yang sempurna. Saat itu rasanya berharap bahwa kita tak perlu sekolah dan ingin makan tidur saja dirumah. Ketika beranjak dewasa kita juga disibukkan dengan beragam rutinitas pekerjaan yang menyita waktu. Sudah mati-matian bekerja pun ternyata penghasilan kita tak cukup untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Makian dari bos dan istri pun menjadi masalah tersendiri.
Begitulah kehidupan kita, suka duka selalu hadir tak menentu. Hendaknya dari masa ke masa kita selalu belajar, belajar dan terus belajar. Ada berbagai hal baru yang harusnya ingin kita lakukan untuk menambah keilmuan kita. Hingga hidup kita tak berjalan monoton dan sepertinya jalan ditempat. Seperti ketika kecil dulu, kita selalu bersemangat untuk mulai tertawa, mengucapkan sepatah dua patah kata, menggerakkan kaki dan tangan untuk mulai merangkak lalu berjalan dan terus berlari. Sadarkah kita, jika waktu kecil dulu kita tidak menjadi pribadi yang tangguh dan bersemangat, jadi apakah kita saat ini?
Sejak kecil kita terlatih untuk jadi pribadi yang tangguh, tidak takut mencoba walaupun sering gagal. Orang tua dan sanak keluarga selalu mendukung ketika kita jatuh dan terus menyemangati hingga kita berhasil. Walau kini tak ada lagi yang memberi kita semangat untuk bangkit dari kegagalan seperti ketika kecil, bahkan hanya cacian yang kita dapat saat gagal. Biarlah, kalau menjadi kekanak-kankan itu diperlukan, gunakanlah. Jika itu bisa mengantarkan diri kita menjadi pribadi yang tidak tau malu untuk terus berusaha menjadi pribadi yang benar. Hingga akhirnya kebahagiaan itu tak terelakkan lagi menjadi milik kita.
Tampilkan postingan dengan label fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fitri. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Januari 2012
Oh, wakil rakyatku…?*@#
Fitri Komala Sari
Pembangunan ruang banggar senilai Rp20 miliar dinilai kontras dengan keadaan masyarakat miskin di Indonesia. Dana renovasi sebanyak itu harusnya lebih baik digunakan untuk mengentaskan kemiskinan di Tanah Air.
Dalam kasus tersebut, anggaran yang terlalu boros di antaranya untuk pemasangan sound system beserta perlengkapannya serta furnitur. Bahkan, harga kursi khusus pimpinan banggar mencapai Rp 24 juta per unit. Kursi tersebut diimpor dari Jerman.
Ketua Banggar Mekias Mekeng mengatakan, tidak ada sedikitpun pembicaraan mengenai spesifikasi furnitur dan biaya ruangan. Menurutnya, semua itu adalah tanggung jawab Setjen dan BURT DPR. “Banggar hanya memberikan saran agar warna yang digunakan dalam ruangan tidak beraroma partai tertentu,” ucap dia.
Anggaran yang terlalu besar untuk merenovasi ruangan berukuran 10 meter kali 10 meter tersebut bertolak belakang dengan anggaran yang diperuntukkan untuk masyarakat. Seperti yang terjadi di Desa Lidah Tanah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Salah seorang warga, Nurbaiti, harus berjuang menafkahi lima orang anaknya dengan menjadi buruh cuci. Upah yang diterima sebesar Rp 10 ribu per hari tidak akan cukup untuk membeli beras dan lauk pauk.
Menurut Nurbaiti, jatah enam kilogram beras miskin dari pemerintah hanya cukup untuk beberapa hari. Karena itu, dia mengolah ubi kayu menjadi makanan bagi keluarganya.
Seluruh anak Nurbaiti putus sekolah. Nurbaiti berharap uluran tangan dermawan atau pemerintah daerah agar anak-anaknya bisa menlanjutkan pendidikan.
Biaya renovasi ruang banggar tersebut bertolak belakang dengan kondisi masyarakat miskin di Indonesia. Sungguh tak punya nurani.
Pembangunan ruang banggar senilai Rp20 miliar dinilai kontras dengan keadaan masyarakat miskin di Indonesia. Dana renovasi sebanyak itu harusnya lebih baik digunakan untuk mengentaskan kemiskinan di Tanah Air.
Dalam kasus tersebut, anggaran yang terlalu boros di antaranya untuk pemasangan sound system beserta perlengkapannya serta furnitur. Bahkan, harga kursi khusus pimpinan banggar mencapai Rp 24 juta per unit. Kursi tersebut diimpor dari Jerman.
Ketua Banggar Mekias Mekeng mengatakan, tidak ada sedikitpun pembicaraan mengenai spesifikasi furnitur dan biaya ruangan. Menurutnya, semua itu adalah tanggung jawab Setjen dan BURT DPR. “Banggar hanya memberikan saran agar warna yang digunakan dalam ruangan tidak beraroma partai tertentu,” ucap dia.
Anggaran yang terlalu besar untuk merenovasi ruangan berukuran 10 meter kali 10 meter tersebut bertolak belakang dengan anggaran yang diperuntukkan untuk masyarakat. Seperti yang terjadi di Desa Lidah Tanah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Salah seorang warga, Nurbaiti, harus berjuang menafkahi lima orang anaknya dengan menjadi buruh cuci. Upah yang diterima sebesar Rp 10 ribu per hari tidak akan cukup untuk membeli beras dan lauk pauk.
Menurut Nurbaiti, jatah enam kilogram beras miskin dari pemerintah hanya cukup untuk beberapa hari. Karena itu, dia mengolah ubi kayu menjadi makanan bagi keluarganya.
Seluruh anak Nurbaiti putus sekolah. Nurbaiti berharap uluran tangan dermawan atau pemerintah daerah agar anak-anaknya bisa menlanjutkan pendidikan.
Biaya renovasi ruang banggar tersebut bertolak belakang dengan kondisi masyarakat miskin di Indonesia. Sungguh tak punya nurani.
Pasti datang, entah kapan??
Fitri Komala Sari
Pekan lalu,masih teringat jelas ingatan kita mengenai kejadian mobil xenia maut yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia dan 3 orang dirawat dengan luka serius. Sudah cukup cacian yang terlontar serta makian dari berbagai pihak yang mengutuk aksi pengendara mobil tersebut. Sudah habis mungkin deras airmata yang tertumpah dari para keluarga korban yang tak menyangka sanak keluarganya meninggal karena kejadian tersebut.
Dari peristiwa tersebut, hanya satu yang terus terngiang di pikiranku. Bahwa kita tak pernah tau kapan maut datang menjemput. Saat kita berpesta pora, belajar, memasak, di jalan ataupun ketika sedang beribadah. Kita selalu diingatkan untuk terus mawas diri menjalani tiap episode kehidupan kita, hingga jika maut itu datang berharap kita sedang melakukan yang baik bukan sebaliknya.
Saat kita lahir ke dunia, kita menangis dengan kencangnya sementara orang di sekeliling kita tersenyum. Kita tak punya hak untuk merutuki takdir. Kita hanya punya kesempatan untuk berbuat yang terbaik dan benar dalam hidup kita. Hingga saat kita meninggal dunia nanti, orang-orang menangisi jasad kita, sedangkan kita tersenyum menuju sang Khalik.
Pekan lalu,masih teringat jelas ingatan kita mengenai kejadian mobil xenia maut yang menyebabkan 9 orang meninggal dunia dan 3 orang dirawat dengan luka serius. Sudah cukup cacian yang terlontar serta makian dari berbagai pihak yang mengutuk aksi pengendara mobil tersebut. Sudah habis mungkin deras airmata yang tertumpah dari para keluarga korban yang tak menyangka sanak keluarganya meninggal karena kejadian tersebut.
Dari peristiwa tersebut, hanya satu yang terus terngiang di pikiranku. Bahwa kita tak pernah tau kapan maut datang menjemput. Saat kita berpesta pora, belajar, memasak, di jalan ataupun ketika sedang beribadah. Kita selalu diingatkan untuk terus mawas diri menjalani tiap episode kehidupan kita, hingga jika maut itu datang berharap kita sedang melakukan yang baik bukan sebaliknya.
Saat kita lahir ke dunia, kita menangis dengan kencangnya sementara orang di sekeliling kita tersenyum. Kita tak punya hak untuk merutuki takdir. Kita hanya punya kesempatan untuk berbuat yang terbaik dan benar dalam hidup kita. Hingga saat kita meninggal dunia nanti, orang-orang menangisi jasad kita, sedangkan kita tersenyum menuju sang Khalik.
Langganan:
Postingan (Atom)