Tampilkan postingan dengan label imas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

RUMAHKU RATA DI SAPU BADAI HUJAN ANGIN

OLEH: IMAS IDUL FITRI

    Hari ini (Kamis, 5 Januari 2012) Jakarta di landa badai hujan angin yang begitu kencang. Awan gelap menutupi langit, suasana siang hari terasa seperti malam.
    Hujan angin ini di mulai sejak siang hari sampai sore, mengakibatkan beberapa tempat jalanan terisolir karena pohon tumbang dimana-mana.
    Salah satunya di Benhil, disana tidak hanya pohon yang tumbang tapi ada beberapa rumah penduduk yang terkena amukan anginnya, ada yang atap rumahnya hilang terbawa angin, bahkan ada yang lebih parah dari itu, rumah yang awalnya berdiri kokoh tiba-tiba roboh tersapu angin kencang , bangunannya rata dengan tanah tidak tersisa sedikitpun.
    Yang lebih menyedihkan adalah rumah yang tersapu rata ini milik seorang ibu penjualan sayuran, sehari-harinya berjualan sayuran di depan pelataran rumahnya. Dapat di bayangkan bagaimana kehidupan dia selanjutnya dengan adanya musibah ini?
    Akibat badai ini pula bapak supir taksi harus rela mengorbankan taksinya yang tertimpa reruntuhan pohon, ketika itu dia sedang mengendarai taksinya melintasi jalanan, tiba-tiba pohon tumbang pas di atas taksi yang dia kendarai.
    Alhamdulillah, bapak supir taksi itu dapat terselamatkan, dan tidak menjadi korban bencana.

Rabu, 04 Januari 2012

Cianjur Kota Santri

Imas Idul Fitri
Semester 5 sore

Cianjur Kota Santri
    Pernahkah anda datang ke kota Cianjur? Sekedar lewat atau bahkan berkunjung ke rumah saudara? Jika pernah, pasti anda sudah terbiasa ketika memasuki kota Cianjur akan melihat tulisan gerbang marhamah. Terus di jalan-jalan banyak sekali anjuran dan slogan yang mencerminkan ajaran Islam. Luar biasa bukan? Atau yang lebih menakjubkan lagi ditempat-tempat umum anda bisa baca nukilan-nukilan hadits, dan berbagai pesantren tradisional akan banyak kita jumpai disana. Jika kita bayangkan mungkin suasana yang seperti itu akan terasa sejuk, penuh harmonisasi dan suasana agamisnya akan lebih terasa, setiap hari kita berada dilingkup lingkungan yang Islami, dibandingkan dengan Jakarta yang terkenal sebagai kota metropolitan.
    Tapi sayang sungguh sayang syariat Islamnya ternyata hanya sekedar berada dalamd jargon, tempelan, dan slogan itu. Jika malam hari anda berjalan keliling Cianjur atau Cipanas anda akan menemui diskotik-diskotik yang masih saja buka dengan bebasnya, meski masyarakat sekitar, ulama bahkan buletin jumat telah berulang kali menyerukan untuk menutup tempat maksiat tersebut. Entah apa yang menghalangi pemerintah daerah hingga tidak menutup tempat tersebut. Sebab jika memang bapak bupati menginginkan Cianjur sebagai kota marhamah yang bersyariat Islam, maka tidak ada tempat untuk diskotik itu, apapun alasannya diskotik-diskotik itu harus ditutup.
    Coba suatu waktu ketika anda berkesempatan untuk berkunjung ke Cipanas, selepas maghrib anda berjalan dari daerah Gadog sampai pasar Cipasar bahkan disamping trotoar posko keamanan sekalipun di sepanjang jalan itu akan anda jumpai para wanita bergincu tebal dan malah kerap kali terjadi transaksi dengan para hidung belang disana. Atau yang lebih marak lagi adalah togel atau disebut juga judi kupon, apalagi yang namanya miras orang yang sehari-harinya tinggal di Cianjur kampungnya pun sudah marak dan menjadi wabah minuman keras.
    Pertanyaan kita sekarang, kemanakah slogan, jargon, dan tempelan2 itu apakah hanya sekedar kata saja? Kemanakah Cianjur yang terkenal sebagai kota Santri itu, apakah hanya sebutan saja?
    Padahal harusnya berimbang ketika marak berdiri pesantren-pesantren maka sudah selayaknya bisa meminimalisir kondisi-kondisi yang tidak baik itu. Bahkan terkadang jika masyarakatnya masih menganut ajaran “nenek moyang” pada bulan-bulan tertentu mereka akan berramai-ramai berkunjung ke Cikundul (salah satu tempat yang dijadikan tempat untuk ziarah) disana mereka ramai-ramai mandi dipemandian umum, laki-laki perempuan campur baur, meminta kepada kuburan seseorang yang dianggap memiliki kelebihan tertentu, pulangnya mereka membawa air dengan taburan tujuh macam bunga. Apakah hal ini tidak termasuk syirik? Tentu ini salah satu kemusyrikan bukan? Lalu dimana para ustadz atau ulama atau santri, atau kiyai yang setiap hari bergelut dengan kajian agama Islamnya.
    Semua fenomena ini tidak bisa kita salahkan hanya pada sebagian pihak, tentunya ini menjadi tanggung jawab kita semua. Bagaimana caranya agar semua fenomena itu dapat kita minimalisir atau bahkan kita rubah paradigma di masyarakat agar lebih baik dan meninggalkan hal-hal yang keji itu.
   
   
   

Selasa, 27 Desember 2011

AKU DAN SAUDARA KEMBARKU


Oleh: Imas Idul Fitri
Pagi ini ketika matahari mulai menampakan sinarnya, ku arahkan mataku menatap sekeliling, burung yang ramai berkicau di dahan. Sejenak ku teringat masa kecilku dulu di sini, di rumah yang sangat sederhana, di tengah-tengah perkampungan yang cukup jauh dari keramaian kota.
Ibu yang setiap pagi selalu membangunkanku karena aku sulit sekali tidur waktu malam dan menjelang shubuh rasa kantuk itu hadir menyergap, membuat ibu harus berkali-kali membangunkanku. Berbeda sekali dengan Fathimah saudara kembarku, dia lebih cepat terlelap tidur.
“Aisyah bangun nak, hari ini kan hari pertama kamu sekolah” dengan lembut ibu kembali membangunkanku.
Bersambung,,,,,